PERKEMBANGAN PEMIKIRAN SISWA

Sejak lahir anak memiliki kurang lebih 100 miliar sel otak. Sel-sel saraf ini harus rutin distimulasi dan didayagunakan agar terus berkembang jumlahnya. Pertumbuhan otak anak ditentukan bagaimana cara orangtua mengasuh dan memberikan makan serta memberikan stimulasi pendidikan.
Untuk mendorong perkembangan kecerdasan anak secara optimal, orangtua berperan penting dalam memberikan stimulasi. Karena di usia balita anak banyak menghabiskan waktu di lingkungan keluarga sehingga orangtua harus lebih kreatif memanfaatkan kondisi keseharian sebagai media belajar anak.
Menurut konsultan pendidikan anak Irene F Mongkar, salah satu cara untuk merangsang perkembangan intelektual anak adalah dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang. Dalam hal ini orangtua membiarkan anak mengembangkan pengamatannya, karena sejak lahir anak telah mengenal dunianya melalui pancaindranya. “Oleh karena itu ciptakan lingkungan yang dapat merangsang pertumbuhan anak, dapat melalui bermacam-macam kontak dan pengalaman orang lain di dalam kegiatannya,” ujar Irene saat menjadi pembicara dalam seminar Cara Pintar Menjadikan Anak Pintar, belum lama ini.
Selain itu, orangtua juga perlu merangsang kemahiran anak dalam berbahasa yaitu mendorong anaknya mengucapkan kata-kata dengan mengajaknya berbicara dan memujinya bila mengucapkan kata-kata yang benar. Cara lain bisa dengan membacakan dongeng atau buku cerita terkait lingkungan sekitar, sehingga perbendaharaan kata anak semakin meningkat. Jadi ketika si anak telah mahir menggunakan kata-kata, anak akan belajar mengungkapkan perasaan dan keinginannya melalui bahasa, membandingkan, membedakan dan bahkan mengungkapkan pengertian abstrak.
“Orangtua juga perlu memberikan dorongan motivasi kepada anaknya dengan memberikan penghargaan jika anak bersikap sesuai dengan apa yang diharapkan. Singkatnya anak selalu diberi motivasi untuk belajar dan belajar,” jelas Irene yang mengaku pernah mengikuti pelatihan pendidikan anak dalam dan luar negeri.
Pemberian stimulasi untuk memberikan rangsangan intelektual anak dilakukan selama empat tahun pertama dengan menciptakan lingkungan rumah yang menggairahkan dan menggunakan metode dan teknik baru. Anak membutuhkan proses pendidikan yang mengarah pada perkembangan intelectuall quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ) secara seimbang dengan berbagai metode.
Irene mencontohkan, anak dapat diajak dan dilibatkan dalam sebuah permainan yang sederhana dan menggembirakan sekaligus merangsang perkembangan intelektualnya. “Ketahuilah bahwa rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran dan fungsi kimiawi otak,” tegas pemilik klinik konsultasi Sahabat Orangtua dan Balita ini.
Jadi lebih muda usia seorang anak, lebih besar pula pengaruh lingkungan terhadap dirinya dan lebih banyak juga sifat-sifat dan taraf kecerdasannya dapat diubah. Bila anak telah mempertajam rasa ingin tahunya dan menemukan kegembiraan dalam rasa ingin tahunya itu, berarti anak telah mempertajam perkembangan intelektualnya.
Pengaruh Rumah Tangga
Suasana emosional dalam keluarga ternyata juga sangat berpengaruh pada rangsangan anak untuk belajar dan mengembangkan kecerdasannya. Hubungan antara orangtua dengan anak beserta dengan bakat-bakatnya akan menentukan kemampuan belajarnya di kemudian hari. “Banyak fakta membuktikan, kecerdasan anak akan berkembang lebih baik bila sikap di dalam rumah tangga terasa hangat dan demokratis serta penuh kasih sayang dan saling memberi perhatian,” terang Irene yang mengaku rela melepas jabatannya sebagai General Manager (GM) di salah satu perusahaan untuk berkecimpung di dunia anak-anak.
Sedangkan anak yang hidup dalam suasana rumah tangga yang memusuhi, acuh tak acuh justru akan menjadi anak yang mundur dalam kecerdasannya. Hal ini terjadi karena anak merasa tidak dicintai dan selalu dibantah oleh orangtuanya sehingga tidak memiliki rasa percaya diri.
Menurut Irene, hal lain yang juga amat penting dalam mendorong perkembangan intelektual anak adalah memberikan penghargaan, pujian dan kasih sayang. “Hal ini tidak hanya membantu anak berkembang secara emosional dan kehidupan sosialnya saja,” tegasnya.
Irene mengimbau, orangtua sebaiknya jangan meminta tuntutan yang terlalu tinggi dengan harapan agar anak berusaha keras mencapai keberhasilannya. Karena hal tersebut justru akan membuat anak menjadi jatuh semangat yang akhirnya menjadi merasa tak mampu dan tak mau berusaha lagi. “Jika anak berbuat kesalahan dan kegagalan, perlu diingat hal itu merupakan cara untuk belajar menjadi lebih baik. Jadi jangan mencerca, menakuti, apalagi menghukumnya. Kegagalan bukanlah kejahatan,” pungkasnya. (Ikrob Didik Irawan)
Perkembangan intelektual terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak, dimulai di bawah lima tahun. Usia empat tahun, seorang anak telah membentuk 50 persen inteligensinya, yang akan dimilikinya setelah dewasa, 30 persen lagi saat anak itu memasuki usia delapan tahun, dan 20 persen sisanya pada pertengahan akhir dasawarsa kedua.

Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, Drs James Modouw, MMT, menegaskan hal itu saat membuka Pelatihan Tenaga Pengelola dan Pendidik Anak Dini Usia (PADU), di Balai Pelatihan Guru (BPG), Kotaraja, Senin (4/8) malam. Kegiatan yang mencanangkan subtema

"Melalui Pelatihan Tenaga Pengelola dan Pendidik PADU, Kita Bina Anak Indonesia Menjadi Generasi Sehat, Cerdas dan Ceria" itu diikuti 40 peserta dari seluruh Provinsi Papua, dan berlangsung hingga 7 Agustus.

Usia empat tahun, ia menambahkan, disebut juga sebagai golden age. Artinya, pada usia itu, selain diberikan gizi yang cukup dan layanan kesehatan yang baik, rangsangan-rangsangan intelektual spiritual juga diperlukan dalam usia itu.

Ia berpendapat, salah satu terobosan untuk anak usia dini yang belum tersentuh pendidikan prasekolah adalah program pendidikan anak usia dini (PADU), yang menekankan pada pendekatan pelayanan secara holistik dan terintegrasi.

Program PADU diharapkan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak seperti gizi, kesehatan, psikososial dan rangsangan intelektual anak harus juga diperhatikan secara simultan. Keberhasilan program itu tidak lepas dari berbagai pihak, misalnya instansi swasta dan masyarakat.

Pentingnya pendidikan dini ditegaskan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Di dalamnya antara lain dicanangkan bahwa arah kebijakan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia mengacu pada pengembangan SDM sedini mungkin secara terarah, terpadu dan menyeluruh, melalui berbagai upaya proaktif dan kreatif oleh seluruh komponen bangsa, agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan dukungan dan lindungan sesuai dengan potensi yang ada.

"Lembaga-lembaga layanan pengasuh dan pendidikan dini yang saat ini telah ada di tengah masyarakat perlu lebih diberdayakan. Dengan demikian keberadaan sarana dan prasarana layanan pengasuh dan pendidikan dini yang telah ada dapat lebih dioptimalkan lagi pemanfaatannya," ujarnya.

Ia mengharapkan semua kalangan bekerja dengan efektif mengingat kondisi masyarakat yang berbeda-beda. Sesuai dengan jiwa otonomi daerah, pedoman pun hendaknya bersifat fleksibel.

Pedoman itu masih sangat terbuka untuk dikembangkan atau disesuaikan berdasarkan kebutuhan, keadaan masyarakat, dan kondisi tiap daerah. 

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN SISWA Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hafidh Hibatullah

Posting Komentar